Gedung yang bertempat di Jalan H Supu Yusuf tersebut dinamakan sesuai nama kedua pendirinya, yaitu Gedung Hj Muhaniah Hasyim dan Aula H Saeka Latiho.

Lukman menyebut gedung tersebut cukup memenuhi standar dan sangat memadai untuk digunakan sebagai fasilitas pembelajaran. Kedepannya ia meminta STIE 66 tidak hanya membangun gedung, tapi juga melengkapi sarana dan prasarana pembelajaran di dalamnya.

Selain secara fisik, secara keilmuan Lukman mengimbau perguruan tinggi untuk membentuk kurikulum pembelajaran yang lebih banyak praktik di banding teori.

Hal itu menurutnya sangat berguna untuk memenuhi kebutuhan industri di era modern seperti sekarang. Terlebih Sulawesi Tenggara yang banyak menyerap tenaga kerja di industri tambang dan smelter.

Ketua Yayasan STIE 66 Kendari, Irma Nurjannah mengatakan, pembagunan gedung tersebut memakan waktu hingga 14 tahun sejak peletakan batu pertamanya di tahun 2009.