Putra sulungnya menyerahkan selembar kertas bernomor “15” sebagai token untuk mengambil ponsel yang diisi dayanya di stasiun tenaga surya. Ponsel itu berfungsi sebagai alat komunikasi sekaligus sumber cahaya di malam hari.
Di seluruh Gaza, tenda-tenda darurat tetap gelap setelah matahari terbenam, hanya diterangi lilin, api kecil, atau cahaya redup dari layar ponsel. Suami Shorouq menyalakan api kecil di luar tenda sebelum tidur, lalu memadamkannya agar tidak menimbulkan bahaya kebakaran.
Sejak Israel melancarkan operasi militer berskala besar pada 7 Oktober 2023, setelah serangan Hamas di Israel selatan, wilayah Gaza berada di bawah “pengepungan total” yang memutus pasokan listrik, air, dan bahan bakar. Mayoritas dari dua juta warga kini hidup dengan sedikit atau tanpa listrik sama sekali.
Shaker Murtaja (42), warga Khan Younis, menceritakan bagaimana keluarganya ketakutan menghadapi kegelapan. “Siapa yang dapat hidup tanpa listrik selama dua tahun? Kami manusia dan berhak hidup seperti lainnya,” ujarnya.
Kelangkaan listrik juga melemahkan perekonomian Gaza. Pemilik pabrik Samer Afana (53) mengandalkan generator berbahan bakar plastik yang dicairkan untuk menjalankan sebagian pabrik permennya, meski biaya operasional meningkat tiga kali lipat.
