Jumlah ini meningkat pada periode 2009-2017 menjadi 5.389 gempa per tahun. Pada 2018, jumlah gempa melonjak drastis mencapai 12.062 kejadian, sementara pada 2019 tercatat 11.731 gempa.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menjelaskan bahwa gempa yang terjadi di Indonesia tidak selalu berkaitan dengan megathrust Jepang.
“Tidak ada sama sekali (hubungan rentetan gempa pasca-megathrust di Jepang). Gempa kita memang banyak,” kata Daryono.
BMKG terus memperkuat sistem pemantauan gempa dan tsunami untuk menghadapi peningkatan aktivitas tektonik di Indonesia.
Saat tsunami Aceh 2004, hanya ada sekitar 20 seismograf yang beroperasi. Sejak 2008, jumlah sensor pemantauan terus bertambah hingga kini mencapai 550 unit yang tersebar di seluruh Indonesia.
