Sebagian besar serangan tersebut dikabarkan telah berhasil dicegat oleh sistem pertahanan Israel sebelum akhirnya gencatan senjata diberlakukan pada 10 Oktober. Serangan tersebut tidak hanya menyasar wilayah Israel, tetapi juga kapal-kapal yang dianggap terkait dengan kepentingan Israel di Laut Merah.
Berdasarkan laporan yang dirilis, empat kapal dilaporkan tenggelam akibat serangan Houthi sepanjang periode tersebut.
Dalam sepekan terakhir, Houthi turut mengumumkan mobilisasi umum untuk memperkuat struktur keamanan mereka. Langkah ini meliputi perekrutan ratusan pejuang dari berbagai suku, pengetatan pemeriksaan di sejumlah wilayah mereka, serta pendirian pos-pos keamanan tambahan.
Selain itu, kelompok tersebut juga dilaporkan menahan lebih banyak personel Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dituduh sebagai mata-mata untuk Israel. Situasi ini menjadi indikator bahwa Houthi mempersiapkan diri menghadapi ketidakpastian yang mungkin muncul apabila gencatan senjata berakhir.
Houthi juga dikabarkan mengirim tambahan milisi ke garis depan sekitar Marib, sebuah provinsi yang kaya sumber daya minyak dan berada di bawah kendali pasukan pemerintah Yaman yang didukung oleh Arab Saudi.
