Penutup
Kemajuan teknologi virtual reality dan augmented reality, mungkin saja bagi generasi GenZ dan GenAlfa menganggap bahwa metaverse atau teknologi sejenisnya adalah dunia nyata mereka, tapi yang perlu menjadi catatatan kita bahwa metaverse akan menghilangkan kehangatan sosial yang dapat kita rasakan ketika manusia melakukan interaksi dengan manusia lainnya secara langsung.
Mungkin generasi GenZ dan Genalfa, Metaverse dengan rasionalitas teknologis yang mereka pahami, hanya memiliki sudut pandang saintifik semata.
Dan ini seolah membuktikan kebenaran tesis dari Adorno sebagai generasi pertama dari mazhab Frankurt, yang menyebut bahwa manusia-manusia pada titik ini telah mencapai “negativitas total”. Atau dengan kata lain, aspirasi manusia untuk kebahagiaan dan kebebasan pada akhirnya tidak akan pernah terwujud karena dikendalikan sebagai objek oleh sistem yang bekerja atau mewujud sebagai teknologi dan sains itu sendiri.
Karena itu, disinilah tantanganya. Bagaimana kedepan pemerintah sebagai regulator mampu menjaga dan mengatur realitas virtual sebagai hal baru yang dapat melindungi kenyamanan dan keamanan data pribadi warganya. Sedangkan secara umum bagi dunia pendidikan tinggi, dapat memperbaharui cara pandang dan berpikirnya dalam merespon realitas baru teknologi yang hampir pasti tak mungkin bisa dihindari. (*)
