Biaya hidup yang tinggi dan atau gaya hidup yang konsumeristik, menjadikan fokus kepada generasi terabaikan. Pengawasan yang minim membuat anak-anak bebas tak terkendali.

Ketiga, sistem sosial dan media berbasis sekuler-liberalistik. Fenomena gen-Z kecanduan gadget bukan terjadi sendirinya. Namun industri hiburan telah menyuguhkan berbagai macam kesenangan menuju kecanduan. Bisnis industri hiburan, hanya berorientasi profit. Tak peduli barang dan jasa itu haram atau merusak generasi. Media pun minim edukasi bahkan situs-situs porno mudah diakses.

Sangat menyedihkan, saat negara tak bisa berbuat banyak terhadap apa yang menimpa generasi. Padahal, generasi adalah aset bangsa yang seharusnya dijaga demi keberlangsungan negara dan kemajuannya.

Setidaknya keberhasilan mencetak generasi cemerlang dalam Islam dapat diukur dari, pendidikan berasaskan aqidah Islam, dimana pendidikan bertujuan membentuk kepribadian Islam. Standar keberhasilan tidak diukur dari capaian akademik semata, tapi terbentuknya kepribadian dalam diri siswa sehingga melahirkan individu bertakwa.

Selain itu, pendidikan dalam Islam bertujuan untuk melahirkan teknologi atau sumbangsih yang bermanfaat bagi penyelesaian problematika masyarakat. Seperti gadget, teknologi canggih ini akan menghadirkan fitur-fitur yang bermaslahat, bukan malah menciptakan mudharat.