Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kolaka Utara, Ihwan tidak menampik jika angka prevalensi stunting di Kolaka Utara tahun 2023 alami kenaikan hingga 31,8 persen berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI).

Meski demikian, kata dia, jika merujuk pada data Elektronik Pelaporan Pencatatan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) angka prevalensi stunting Kabupaten Kolaka Utara justru mengalami penurunan signifikan dari 8,8 persen di bulan Agustus 2021 turun 5,56 persen pada tahun 2022 hingga menyentuk angka 2,93 persen pada April 2024.

"Kita sendiri punya angka, berdasarkan e-PPGBM hasilnya jauh di bawah level survei (SSGI)," ujarnya.

Sekertaris TPPS Kolaka Utara, Ihwan, sampaikan progres kegiatan bulan sensus stunting. Foto: Muh Risal H/Telisik

 

Untuk memastikan akurasi data SSGI, Pemkab Kolaka Utara melalui TPPS juga melaunching program bulan sensus stunting dengan sasaran sensus seluruh balita yang tersebar di 27 desa dan 6 kelurahan di 15 kecamatan. Sensus tersebut berjalan sejak tanggal 1 Juni 2024 dan ditargetkan kelar di penghujung bulan ini.