Dalam hal ini sumber daya EBT Indonesia khususnya pulau Flores yang melimpah perlu segera dimaksimalkan pemanfaatannya untuk pengadaan energi bersih.
Dede Mairizal, Senior Manager Perizinan, Pertanahan dan Komunikasi PLN (Persero) UIP Nusa Tenggara mengungkapkan, jika saat ini kebutuhan energi listrik di Nusa Tenggara Timur khususnya pulau Flores mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan, maka itu merupakan pertanda membaiknya kondisi ekonomi masyarakat.
Pemenuhan energi tersebut, kata dia, ditopang oleh beberapa pembangkit listrik yang masih menggunakan bahan bakar minyak yang secara biaya pokok produksi lebih tinggi dibanding nilai jual ke pelanggan.
“biaya produksi listrik di Pulau Flores itu sekitar Rp 2000 per kwh (kilo watt hours) sedangkan biaya yang dibebankan kepada masyarakat untuk pelanggan rumah tangga 1300 VA sebesar Rp 1.444 per kwh, artinya ada selisih yang harus ditanggung oleh negara melalui subsidi energi,” ujar Dede, Kamis (2/3/2023).
Lebih lanjut Dede mengatakan, melalui Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik 2021-2030, PLN sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ditugaskan untuk menyiapkan suplai energi yang cukup dan andal secara operasional, terlebih PLN ditargetkan menyiapkan energi yang ramah lingkungan guna mendukung tercapainya Net Zero Emission (NZE) tahun 2060.
