Poros Islam acap dihembuskan setiap Pemilu tanpa petahana, seperti Pemilu 2014 lalu. Namun, penulis menyakini PKS melakukan silaturahim dengan dalih utamanya politik kebangsaan, dibandingkan dengan penjajakan berkoalisi, atau memilih bergabung sebagai pendukung pemerintah.

PKS sudah memperhitungkan kiprah politiknya. Saat ini, PKS dalam arus calon-calon presiden pada Pemilu 2024 mendatang, memang belum terlihat, meski sudah ada nama kader PKS Zulkieflimansyah, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), mulai disebut potensial sebagai calon presiden dari poros Indonesia Timur.

Tetapi bisa diterka, PKS masih menghitung kekuatan dan kansnya, jika memang tidak memungkinkan, lebih baik PKS memilih menjadi bagian dari koalisi dibandingkan mengajukan calon presiden, tetapi tak punya kans untuk berkoalisi.

Meski begitu, kekuatan PKS sebagai partai secara level daerah, di tingkat lokal, PKS tak bisa dipandang sebelah mata. PKS di Pilkada 2020 kemarin, memenangkan sebesar 53,04 persen, PKS memenangkan 122 dari 230 Pilkada yang diikuti di wilayah Indonesia.

PKS memang lebih memperhitungkan membangun kekuatan pondasi partai di daerah-daerah, dengan lebih banyak berbicara di tingkat persaingan kepala-kepala daerah.