Dari Sendok ke Penyakit Tanpa Ujung

Mekanismenya sudah lama mapan: gula berlebih memicu resistensi insulin dan berujung diabetes tipe 2; garam tinggi merusak pembuluh darah dan memaksa jantung bekerja ekstra; lemak jenuh mempercepat pembentukan plak aterosklerotik. Ketiga faktor risiko ini sangat umum berkombinasi di Indonesia. SKI 2023 mencatat prevalensi hipertensi mencapai 30,8%, hampir satu dari tiga orang dewasa, namun hanya 8,6% yang sudah terdiagnosis dokter.

Celah lebih dari 20% ini berarti jutaan orang berjalan dengan bom waktu tanpa menyadarinya. Diabetes mellitus mencapai 11,7% secara nasional, sementara obesitas naik dari 21,8% (2018) menjadi 23,4% (2023). Hipertensi, diabetes, dan obesitas adalah tiga serangkai penyakit tidak menular yang saling menopang, dan ketiganya berhulu ke pola konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) yang berlebihan.

Ujung rantai itu adalah penyakit katastropik: jantung koroner, gagal ginjal kronik, stroke, dan kanker. Bukan penyakit yang selesai dengan satu kunjungan puskesmas, ia memerlukan rawat inap berulang, prosedur invasif, obat seumur hidup, dan cuci darah dua hingga tiga kali seminggu, seluruhnya ditanggung Dana Jaminan Sosial (DJS) yang dikelola BPJS Kesehatan.

Beban yang Membengkak Tanpa Henti