"Ini adalah langkah antisipatif kami untuk mencegah terulangnya tawuran antarpelajar. Kami akan melibatkan 19 guru dari masing-masing sekolah dan bekerja sama dengan Satpol PP untuk melakukan patroli di titik-titik rawan tawuran," ujar Aris Badara.

Aris juga menambahkan bahwa penyelesaian masalah tawuran ini memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif.

"Kami perlu melakukan evaluasi mendalam untuk memahami akar masalahnya. Tawuran ini bukan hanya masalah kekerasan fisik, tetapi juga faktor sosial dan psikologis yang perlu kita tangani secara sistematik," kata Aris.

Menurutnya, untuk mengatasi masalah ini, tidak hanya pihak sekolah yang harus bertanggung jawab, tetapi juga orang tua dan masyarakat harus turut serta dalam memberikan pembinaan kepada siswa.

"Kami akan melibatkan seluruh unsur terkait, seperti guru BK, orang tua, siswa, dan tokoh masyarakat, dalam mencari solusi yang tepat agar kejadian tawuran ini tidak terulang lagi," jelasnya. (A)