Sepak terjang PDIP kala itu wajar, sebab PDIP berhasil memerintah kembali sejak menjadi oposisi pemerintah selama sepuluh tahun. Imej sebagai oposisi masih coba dilekatkan agar tidak dianggap oleh masyarakat PDIP sebagai oposisi karena kesal telah ditumbangkan oleh Partai Demokrat (PD) dalam dua periode pemilu.
Presiden lambat-laun mulai menyadari untuk mengharmoniskan hubungan PDIP dengan pemerintahan yang sedang dikelolanya. Kursi menteri Nasdem dikurangi menjadi tiga, dan PDIP menjadi lima, sehingga komposisi tidak lagi setara kala itu. Sejak itu, PDIP mulai perlahan tidak lagi agresif berperan sebagai partai oposisi.
Pola ini terus dilakukan oleh Jokowi di periode keduanya. Nasdem semakin dibuat patah hati. Nasdem meski tetap yang begitu semangat mengusung Jokowi sebagai presiden kembali, tetapi hubungan Presiden Jokowi dengan PDIP malah semakin mesra.
Baca Juga: Peace Maker
Jokowi sebagai presiden juga semakin pragmatis dan seolah tak lagi membutuhkan Nasdem. Ini ditunjukkan dengan Presiden Jokowi malah mengajak Gerindra dengan memberikan dua kursi menteri, padahal sebelumnya adalah rival dalam dua kali pilpres. Gerindra juga menjadi partai yang dekat dengan pemerintah tetapi hubungannya dengan PDIP tidak terjadi resistensi seperti antara PDIP dengan Nasdem.
