Sebelumnya, Israel menyampaikan bahwa jasad yang diserahkan Hamas pada Senin (27/10/2025) malam merupakan bagian tubuh dari seorang sandera yang telah dievakuasi oleh militer mereka dua tahun lalu.  

Hamas melalui sumber internalnya menyebut, Israel menolak izin masuknya tim dari Komite Palang Merah Internasional (ICRC) dan faksi Palestina ke Gaza City bagian timur untuk mencari sisa jasad tawanan Israel tersebut.

Tak lama setelah itu, media Army Radio melaporkan bahwa pasukan Israel menembakkan artileri ke Kota Rafah, Gaza bagian selatan, dengan alasan Hamas telah menargetkan dan menembak mati seorang tentara Israel.  

Namun, Hamas membantah tuduhan tersebut dan menilai klaim itu sebagai dalih untuk melakukan serangan balik.

Setelah insiden itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan militer untuk kembali melancarkan operasi udara di beberapa titik Gaza. Serangan pada malam hari tersebut menewaskan 104 warga Palestina, termasuk 46 anak-anak dan 20 perempuan, menurut keterangan otoritas kesehatan setempat pada Rabu.