"Kesadaranmu adalah imanmu. Kalau pun kita kumandangkan adzan dengan keras jam 5 atau 6 pagi. Karena ada muslim dan non muslim, ada umat Kristiani, umat Yahudi, umat Hindu dan umat Buddha. Mereka mungkin baru pulang kerja jam 4 pagi dan baru saja tidur ," kata pemimpin Masjid Al-Falah.

Baca Juga: Ini Deretan Negara yang Mulai Lirik Taliban di Afghanistan, dari China hingga Indonesia

Baca Juga: Taliban Berkuasa, Mullah Baradar Bakal Pimpin Pemerintah Afghanistan

Toleransi yang kuat inilah yang membuat sejumlah warga Amerika Serikat datang dan menetap. Sebagian kecil dari 22 ribu penduduk, adalah warga asli AS yang berasal dari berbagai negara bagian lainnya.

"Komunitas yang saya inginkan, di mana penduduknya bisa menikmati. Bisa menikmati masak-masakan khas yang berbeda," papar seorang profesor sejarah seni yang pindah dari New York.