Namun, dominasi itu patah di Bangkok pada 1985. Sejak saat itu, persoalan yang harus kita renungkan bukan semata-mata mengapa Indonesia kehilangan gelar juara umum, melainkan mengapa sistem pembinaan kita tidak mampu mempertahankan kejayaan tersebut secara berkelanjutan.

Guru di Asia Tenggara

Ironisnya, pada masa ketika Indonesia menjadi salah satu kekuatan olahraga regional, kita bahkan menjadi rujukan bagi negara-negara tetangga. Program pembinaan seperti Garuda Emas dan Ragunan adalah bagian dari sejarah penting pembangunan olahraga prestasi Indonesia.

Negara-negara tetangga kemudian membangun sistem mereka dengan belajar dari pengalaman internasional, termasuk Indonesia. Filipina, misalnya, mengembangkan program Gintong Alay pada era Presiden Ferdinand Marcos, sementara Thailand secara bertahap membangun kelembagaan olahraga yang semakin sistematis melalui Sports Authority of Thailand dan penguatan ilmu pengetahuan keolahragaan.

Di sinilah ironi sejarah itu terasa. Indonesia yang dahulu menjadi salah satu guru, kini justru harus melihat murid-murid di kawasan berlari lebih cepat. Thailand, misalnya, menunjukkan bagaimana pembinaan dikembangkan melalui dukungan kelembagaan, ilmu pengetahuan, teknologi, kompetisi, dan sumber daya manusia yang profesional.