Thailand menyadari hal ini. Ketika pengembangan olahraga ditopang oleh sumber daya manusia dengan kapasitas akademik yang kuat—termasuk para periset hingga tingkat doktoral—maka keputusan pembinaan tidak lagi berdasarkan intuisi atau kebiasaan masa lalu.

Di Indonesia, struktur pengelolaan olahraga terkadang masih bercampur antara pengalaman praktis, kepentingan kelembagaan, dan keahlian akademik yang belum ditempatkan secara proporsional. Ketika pengalaman tidak bertemu dengan ilmu, dan ilmu tidak bertemu dengan kebijakan, olahraga mudah kehilangan arah.

Akibatnya, kita sering menghasilkan kebijakan yang bergerak mengikuti momentum. Kisah Lalu Muhammad Zohri dapat menjadi cermin yang sangat menarik. Ketika Zohri menjadi juara dunia junior 100 meter di Tampere, Finlandia 2018, Indonesia larut dalam kebanggaan dan memberikan berbagai bentuk apresiasi, termasuk gagasan jaminan pekerjaan sebagai PNS. Semua itu tentu baik. Tetapi kita perlu bertanya: ketika seorang atlet sedang berada pada fase emas kariernya, apa yang sebenarnya paling ia butuhkan?

Ia memang membutuhkan jaminan masa depan. Tetapi pada saat yang sama ia membutuhkan pelatih hebat, dokter olahraga, fisioterapis, ahli gizi, psikolog olahraga, fasilitas latihan yang memadai, teknologi pengukuran performa, serta kompetisi berkualitas. Seorang sprinter tidak menjadi semakin cepat karena memiliki meja kantor, melainkan karena setiap unsur dalam ekosistem prestasinya bekerja secara profesional.

Tempat ibadah seorang atlet elite adalah lintasan, dan perangkat khotbahnya adalah pelatih yang berkualitas, tim medis, ahli gizi dan kompetisi yang bermutu. Jangan sampai kita memberikan meja kantor kepada seorang juara ketika yang paling ia butuhkan adalah lintasan untuk mempertahankan kejayaannya.