Persoalan yang sama terlihat dalam sepak bola kita. Naturalisasi pemain dapat menjadi strategi pragmatis untuk meningkatkan daya saing tim nasional dalam jangka pendek. Tetapi jalan tol tidak boleh membuat kita lupa membangun jalan utama menunju lorong-lorong perkampungan.

Jika naturalisasi terus menjadi solusi instan sementara pembinaan usia dini, akademi, kualitas pelatih, kompetisi muda, talent scouting, dan infrastruktur tidak diperkuat, maka kita hanya sedang memperpanjang usia persoalan. Naturalisasi seharusnya menjadi pelengkap, bukan pengganti pembinaan dari akarnya.

Sebagai seseorang yang mendedikasikan hidup melalui akademisi olahraga—termasuk ketika meraih penghargaan Lomba Karya Ilmiah Inovatif Haornas Tingkat Nasional pada 1994—saya melihat pengetahuan tentang olahraga sebenarnya sudah lama tumbuh di negeri ini. Persoalannya adalah bagaimana pengetahuan tersebut diterjemahkan menjadi kebijakan yang unggul.

Terlalu banyak hasil penelitian hanya berakhir sebagai dokumen akademik di perpustakaan, sementara keputusan di lapangan berjalan dengan logika birokrasi. Ilmu berbicara dari kampus, birokrasi berjalan di koridor administratif, dan atlet berlari di lintasan. Ketiganya belum selalu bertemu di meja yang sama.

Maka, Haornas 2026 harus menjadi momentum untuk mempertemukan kembali ketiganya dalam sebuah rembuk nasional yang jujur. Kita tidak membutuhkan lebih banyak slogan tentang “Indonesia harus menjadi juara”.