Bagi si penjual, tidak peduli bahwa pagi itu Argentina baru saja menumbangkan Inggris—yang notabene adalah salah satu favorit juara. Baginya, kemenangan Messi dan kawan-kawan tetaplah sebuah "kriminalitas taktik" yang dibantu oleh sang pengadil lapangan. Karena tidak bisa memprotes FIFA secara langsung ke markas FIFA di Swiss, ia pun meluncurkan sanksi ekonomi sepihak di lapak ikannya sendiri.
Dari sinilah drama bermula, melahirkan kejadian-kejadian yang sungguh di luar nalar sosiologis.
Seorang pembeli, dengan penuh percaya diri masih mengenakan jersey kebanggaan Argentina yang ikonik, berteriak lantang di depan penjual, “Saya pendukung Spanyol, Pak!” Ia lupa bahwa jersey yang ia kenakan itu berbicara jauh lebih nyaring daripada mulutnya. Sang penjual, dengan ketenangan seorang wasit yang baru saja memberikan kartu merah, hanya tersenyum sinis. Mungkin dalam batinnya, ia sedang menertawakan betapa rapuhnya loyalitas suporter di hadapan harga ikan Baronang.
Baca Juga: Apa Kabar Stunting? Ketika Krisis Senyap Kalah oleh Riuh Berita
Namun, drama belum usai. Ada yang jauh lebih heboh: seorang pembeli rela memutar balik kendaraan, pulang ke rumah, melepas jersey "terlarang" itu, dan kembali ke pasar dengan kaos polos seolah-olah ia baru saja melakukan operasi penyamaran intelijen tingkat tinggi. Semua demi apa? Demi label “Harga Maroko” yang prestisius itu.
