Ternyata, kemenangan beruntun Argentina di lapangan hijau telah memicu "resistensi pasar" yang nyata di tingkat lokal. Kemenangan mereka di sana mungkin disambut dengan pesta, tapi di pasar ikan, itu dianggap sebagai gangguan stabilitas harga. Penjual ikan kita tampaknya telah memposisikan dirinya sebagai "oposisi radikal" terhadap hegemoni tim Tango. Ketika ada pembeli yang jujur mengaku mendukung Maroko, si penjual langsung memberikan harga spesial dengan kalimat sakti: “Yang penting bukan pendukung Argentina!” Sebuah pernyataan solidaritas yang membuat kita tersenyum kecut sekaligus kagum.
Sayangnya, sebelum saya sempat ikut berpartisipasi dalam drama harga "Maroko" tersebut, stok ikannya keburu ludes. Mungkin pembeli terakhir yang memboyong habis dagangan itu adalah fans berat Maroko yang paling militan, atau mungkin juga seorang pendukung Argentina yang akhirnya mengaku sebagai fans tim nasional antah-berantah demi diskon besar.
Jika ditarik ke ranah yang lebih luas, fenomena jenaka di pasar ikan ini sesungguhnya mengajarkan satu pelajaran menarik tentang manusia. Dalam teori ekonomi klasik, manusia sering digambarkan sebagai homo economicus—makhluk rasional yang selalu berusaha memaksimalkan keuntungan. Di pasar ikan pagi itu, teori tersebut memperoleh ilustrasi yang jauh lebih empiris sekaligus sindiran.
Identitas sebagai pendukung tim nasional yang biasanya dipertahankan dengan penuh gairah di media sosial, ternyata memiliki daya tahan yang sangat rapuh ketika berhadapan dengan selisih harga Rp30.000 per kilogram. Nasionalisme sepak bola yang semalam berkobar di depan layar televisi, mendadak menjadi konsep yang sangat fleksibel ketika memasuki wilayah dompet.
Lebih jauh lagi, peristiwa itu menunjukkan bahwa identitas sosial sering kali bersifat situasional. Seseorang dapat menjadi pendukung Argentina ketika menonton pertandingan, menjadi pengagum Spanyol ketika berdiskusi dengan teman, lalu dengan cepat bertransformasi menjadi simpatisan Maroko ketika berdiri di depan lapak ikan.
