"Terkait obat-obatan untuk tanaman (pupuk, red) juga tersendat, padahal kami sangat membutuhkan," ujarnya.
Dengan anjloknya harga gabah, Marjuki mengaku harus bersiap merugi hingga jutaan rupiah. Belum lagi ditambah biaya untuk perawatan tanaman. Bahkan, ia pun harus memanen. Jika ditunda, khawatir akan berdampak pada kualitas padi.
"Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Karena memang sudah masuk musim panen," terangnya. (B)
Reporter: Try Wahyudi Ari Setyawan
Editor: Haerani Hambali
