Ia menjelaskan, mahalnya harga solar industri memberikan tekanan langsung terhadap kemampuan perusahaan dalam menjalankan operasional secara optimal.
"Harga solar industri saat ini sudah berkisar di atas Rp 20.000 per liter, bahkan di daerah Indonesia Timur sudah mendekati Rp 30.000. Hal ini tentu memberatkan bagi sektor industri. Porsi biaya bahan bakar saat ini bisa mencapai 40 persen dari total komponen biaya penambangan," lanjutnya.
Ardhi menilai kombinasi antara kenaikan biaya operasional dan pengurangan kuota produksi berpotensi memperburuk kondisi keuangan perusahaan tambang. Dalam situasi tersebut, berbagai langkah efisiensi mulai ditempuh, termasuk pengurangan aktivitas produksi dan tenaga kerja.
Peringatan serupa disampaikan Ketua Dewan Penasihat Perhapi, Rizal Kasli. Ia menyebut keterlambatan penerbitan RKAB serta pemangkasan kuota produksi telah membuat sejumlah perusahaan mengurangi penggunaan alat berat dan melakukan rasionalisasi karyawan.
Berdasarkan catatan Perhapi, kuota produksi batu bara nasional tahun ini dipangkas sekitar 190 juta ton. Produksi yang sebelumnya mencapai sekitar 790 juta ton kini hanya ditetapkan sekitar 600 juta ton.
