Salah satu yang paling sibuk di masa COVID-19 menyerbu dewasa ini, adalah para orangtua, khususnya mereka yang di rumah harus menghadapi anak-anak di bawah usia 10 tahun (baputa) atau yang belum sepenuhnya berakal budi dalam menjalani pendidikan kelas 1, 2, 3, dan 4 Sekolah Dasar (SD).
Ujian bagi para orangtua, Ibu dan ayah atau dalam kerja sama keduanya, yaitu di samping harus bertindak sebagai pendidik di rumah, juga masih betumpuk-tumpuk lagi ujian duniawi lainnya yang menuntut ekstra sabar.
Di dalamnya termasuk pada saat berbarengan harus pula mengatasi kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, pada tingkat paling minimum sekalipun.
Dapat dimaklumi jika muncul teriak kesulitan mengatasi biaya untuk memenuhi keperluan belajar jarak jauh dengan sistem daring (dalam jaringan) bagi anak-anak, apalagi yang masih di tingkat baputa.
Akan tetapi, haruskah si anak baputa yang jadi korban, bahkan harus sampai meregang nyawa di tangan orangtua sendiri? Padahal, para orangtua itu notabene sering menyebut-sebut si korban adalah si buah hati obat pelega di kala lelah dan galau.
