Lihatlah apa yang terjadi dengan seorang anak baputa. Si baputa yang baru ber-akal sepenjangkauan tangis dan masih harus dipupuk oleh kasih-sayang penuh dari Ibu itu, harus pula dijejali bukan hanya sistem belajar daring. Ia harus menerima kompensasi kejemuan dan kejengkelan Sang Ibu. Si Ayah pun tak memberi solusi terbaik untuk itu.

Mulai dari cubit paha dan tangan, mungkin pula jewer kuping, sampai juga pada pukulan kecil tangan kosong, ia terima dari sang ibu yang mengklaim si baputa adalah darah dagingnya sendiri.

Puncaknya, akumulasi kejengkelan dengan kemarahan meledak mewujud kepada kebengisan yang tersalur lewat gagang sapu.

Baca juga: Terjajah dalam Kemerdekaan

Dengan ringan si ibu melayangkan berkali-kali gagang sapu ke tubuh mungil darah dagingnya.