Orangtua gila pun  --tentu saja karena ketidakwarasannya-- dapat dipastikan tak kan merampas hak prerogatif Tuhan mengakhiri hidup manusia. Apalagi, manusia itu anak kandungnya sendiri.

Kejadian seekstrem itu pasti juga di luar nalar para pemegang kebijakan di tengah amuk COVID-19 sekarang ini, termasuk para pelaksana di Dinas-dinas pendidikan di garis terdepan.

Pelajaran mahal itu tidak cukup hanya disahuti oleh luapan rasa perihatin dari siapa pun. Diperlukan ada kebijakan yang mampu menjangkau batas maksimal tekanan psikologis manusia agar tak ada lagi "kejengkelan yang amat sangat" berpuncak pada bertubi-tubinya hentakan gagang sapu pada si buah hati hingga harus meregang nyawa.

Diperlukan pendampingan bagi para orangtua yang sudah dihantam kesulitan akibat dari terus berlanjutnya serbuan COVID-19.  

Baca juga: Pilkada dalam Paradigma Proses vs Hasil