Ya, diperlukan pendampingan dari para ahli yang sangat memahami dan mampu sabar menghadapi jiwa-jiwa yang tertekan oleh "ribuan ton beban" akibat lanjut dari COVID-19, dari hari ke hari. Ini terutama bagi kalangan bawah yang tanpa amuk COVID-19 pun, sesungguhnya memang sudah kesulitan.
Kapan serbuan COVID-19 kan berakhir, belum ada yang tahu. Sementara obat atau vaksin untuk melawannya belum final dapat digunakan.
"Vaksin" yang sudah tersedia adalah kemauan dan bersedia tertib dalam disiplin diri yang membangun kesadaran bahwa kita bisa membahayakan siapa saja saat berhadap-hadapan tak berjarak tanpa pengamanan apa pun.
Oleh karena itu, lakukan dengan kesadaran penuh jika bepergian: gunakan masker, jaga jarak antar individu, dan segera cuci tangan di air yang mengalir saat tiba di suatu tempat termasuk ketika tiba di rumah sendiri. Penuhi gizi sebaik mungkin (ini tentu butuh biaya, apalagi si saat dampak COVID-19 tak terhindarkan).
Sebab, COVID-19 terus mengintai di antara ketidaktahuan sesama. Kita tidak pernah tahu "ia" tengah menyelinap di mana dan dari siapa “ia” kan melompat lantas terbang ke siapa pula.
