"Formasi saya dibutuhkan. Saya satu-satunya guru di sekolah itu yang fight dari awal dengan formasi ini, tidak ada guru lain. Nilai saya juga tinggi. Tapi begitu lihat pengumuman dari Kementerian Pendidikan tidak lolos, rasanya mau jatuh pingsan, padahal saya sudah mengabdi puluhan tahun," tutur seorang guru didampingi suaminya.

Masih tentang pengaduan yang sama, seorang guru dari sekolah pedalaman juga ikut kecewa terhadap hasi seleksi kompetensi P3K.

Ia mengaku sudah mengabdi sejak lama dan mendapat penilaian tinggi. Tapi dalam pengumuman hasil seleksi lebih dominan guru baru yang lolos.

"Saya sudah mengabdi berpuluh-puluh tahun di sekolah, bahkan saya ikut berjuang mengalihkan sekolah tersebut dari status swasta ke negeri. Nilai observasi saya tinggi, tidak ada formasi lain yang masuk dari luar di sekolah tapi negara meloloskan guru baru yang baru setahun dua tahun mengabdi, sementara saya dinyatakan tidak lolos dalam pra sanggah dan sanggah. Ini sungguh tak adil Bapak. Tolong perjuangkan nasib kami," ujarnya.

Bahkan, kata dia, ada guru SMP yang lolos P3K tetapi penempatan sekolahnya di SD. Jadinya kebutuhan formasi di sekolah itu saling tabrak.