Dikutip dari merdeka.com, menurut istilah, Imam Al-Ghazali mendefinisikan Riya sebagai amal yang dilakukan untuk disaksikan orang lain agar mendapatkan kedudukan dan popularitas. Aktivitas riya seperti ini, dapat dilakukan dengan amal ibadah maupun non-ibadah.

Bahasa sederhana dari definisi riya, jika ada orang yang melihat kemudian dia merasa senang, maka hal tersebut sangat mendorong semangatnya untuk melakukan hal baik, namun jika tidak ada yang melihatnya, maka merasa berat untuk melakukannya.

Dikutip dari republika.co.id, menurut Habib, seseorang yang tertambat riya biasanya adalah mereka yang mengupayakan kebaikan, menahan syahwatnya dari perbuatan-perbuatan buruk, bertutur baik, beribadah dengan rajin, berupaya melakukan 1001 kebaikan, namun dia tidak menyadari tumbuhnya suatu kebanggan 'halus akan upayanya dalam hal-hal tersebut. "Jika suatu amalan terkotori riya dari asal niatnya maka batallah amalan tersebut," katanya.

Baca Juga : Agar Rezeki Suami Lancar, Istri Lakukan 7 Amalan Ini

Namun, bila asal amalannya karena Allah SWT, kemudian perasaaan riya muncul di tengah-tengah amalannya, apabila dia berusaha menolaknya, maka hal itu tidak membahayakan. Tetapi bila dia malah senang dengan riya, maka ulama berselisih akan hukumnya.