Keempat : Merendahkan diri tapi dalam rangka untuk riya agar dipuji bahwa ia adalah seorang yang low profile. Inilah yang disebut dengan “Merendahkan diri demi meninggikan mutu”
Kelima: Menyatakan kegembiraan akan keberhasilan dakwah, seperti banyaknya orang yang menghadiri pengajian, atau banyaknya orang yang mendapatkan hidayah dan sadar, akan tetapi, dengan niat untuk menunjukkan bahwa keberhasilan tersebut karena kepintaran dia dalam berdakwah.
Keenam: Ia menyebutkan bahwa orang-orang yang menyelisihinya mendapatkan musibah. Ia ingin menjelaskan bahwasanya, ia adalah seorang wali Allah yang barang siapa yang mengganggunya akan disiksa atau diazab oleh Allah SWT.
Ini adalah bentuk tazkiyah (merekomendasi) diri sendiri yang terselubung.
Ketujuh: Ia menunjukkan dan memamerkan kedekatannya terhadap para dai/ustaz, seakan-akan bahwa dengan dekatnya dia dengan para ustaz menunjukkan, ia adalah orang yang saleh dan disenangi para ustaz. Padahal kemuliaan di sisi Allah bukan diukur dari dekatnya seseorang terhadap ustaz atau syaikh, akan tetapi dari ketakwaan. Ternyata, kedekatan terhadap ustaz juga bisa menjadi ajang pamer dan persaingan.
