Oleh: Drs. Jayanto Arus Adi, M.M

Wartawan Senior, Direktur JMSI Institute, Ketua Bidang IT JMSI Pusat, Ahli Pers Dewan Pers, Dosen dan Mahasiswa S3 Universitas Negeri Semarang (Unnes), Dosen STIE BPD Jateng, penggiat Satu Pena Indonesia

GUS Muhaimin Iskandar diambang hattrick. Ya, termilogi hattrick seperti menjadi analogi yang pas bagi debut dan kiprah Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa ini. Hattrick adalah narasi untuk menyebut mereka yang mencetak goal tiga kali dalam satu laga, yakni sepak bola.

Di kolom ini, Catatan Jayanto Arus Adi saya ingin menukil spirit serupa. Tapi bukan soal hattrick ala sepak bola, melainkan hattrick politik. Saya memilih judul hattrick versus freekick ala Gus Muhaimin atau Cak Imin. Hattrick versus freekick, apa yang sesungguhnya terjadi dengan mantan Ketua PMII Yogyakarta 1994-1997? Adalah kurusetra Pilpres 2024 mendatang yang akan menjadi testimoni empirik sekaligus legacynya.

Sebelumnya sejumlah capaian monumental telah berhasil dibukukan. ‘Prestasi’ kontroversial yang membawa debut politik di panggung elite nasional adalah menjadi Ketua Umum PKB, dengan ‘menaklukkan’ founding fathersnya, mentor juga guru politiknya, yakni KH Abdurahman Wahib, atau lebih akrab dipanggil Gus Dur, dan tak lain adalah Presiden RI ke-4.