Kedua, jika strategis pertama tidak, atau belum mampu diwujudkan, maka dia dapat melakukan manuver guna melakukan free kick untuk mengatasi lawan politik yang menjadi ancaman.

Apakah hattrick atau freekick kita mengikuti waktu sebagai pengadil dan hakim zaman. Catatan penutup menjadi pesan khusus dari tulisan saya di sini adalah PKB dan Nahdlatul ulama adalah ibarat dua keping mata uang. Dua keping ini mesti bersatu menjadi kekuatan yang utuh. Bukan sebaliknya menjadi dua sisi mata pedang yang bisa saja saling menikam.

Gus Muhaimin Iskandar mempunyai pekerjaan rumah besar terkait relasi asimetris di atas. Sangat elok dan indah jika NU dan PKB dapat benar benar menjadi jiwa raga civil society di Indonesia. Konfigurasi yang tampak sekarang kurang memberi maslahat bagi umat secara ideal.

Karena chemistry yang ada tidak dapat sepenuhnya menyatu. Harapan saya untuk kepentingan bangsa dan negara, juga untuk kepentingan umat, Ketua PBNU, KH Yahya Staquf dan Muhaimin Iskandar nahkoda PKB punya spirit dengan goal yang sama untuk Indonesia Raya. (*)