"Di Indonesia, otoriterisme itu jauh lebih parah kita menyaksikan pada kuartal pertama Jokowi jadi presiden, pada awalnya rakyat umumnya percaya akan ada perubahan signifikan bagi kehidupan rakyat namun harapan itu cepat kandas, mengapa?," ujarnya.

Baca juga: Dukung Peningkatan SDM Milenial, Menteri BUMN dan Rektor IPB Luncurkan Talenta Juara

Karena politik pencitraan (image building) terus saja dilakukan oleh  Jokowi sambil terus melakukan janji sosial, politik, ekonomi dan hukum yang terdengar merdu di telinga kebanyakan rakyat Indonesia.

"Dalam literatur politik, Jokowi cukup lihai memainkan politik yang penampilanya itu demokratis tapi substansinya intinya otoriter," imbuhnya, Sabtu (15/8/2020).

Senior PAN itu mengatakan, Jokowi menjalankan demokrasi illiberal, dimana kebebasan berbicara, berpendapat, dan juga berkumpul mulai dicurigai.