Desakan dari investor agar Musk meninggalkan jabatan di pemerintahan terus meningkat, terutama setelah kinerja Tesla merosot tajam dalam beberapa bulan terakhir. Sepanjang 2025, saham Tesla tercatat anjlok hingga 33 persen akibat berbagai tekanan pasar dan reaksi negatif publik.
Baca Juga: Elon Musk Diproyeksi jadi Triliuner Pertama pada 2027, Prajogo Pangestu di 2028
Salah satu penyebab utama merosotnya kinerja Tesla adalah aksi boikot yang meluas setelah Musk menerima jabatan sebagai Kepala DOGE. Boikot tersebut bahkan merambah ke berbagai negara, terutama di kawasan Eropa, sebagai bentuk kekecewaan terhadap pandangan politik Musk.
Tidak hanya itu, sejumlah showroom Tesla dilaporkan menjadi sasaran serangan di beberapa wilayah. Kondisi ini memaksa Presiden Donald Trump turun tangan secara langsung untuk memberikan respons. Ia menyebut serangan terhadap showroom Tesla sebagai bentuk "aksi terorisme".
"Ini bukan protes biasa. Ini adalah bentuk terorisme terhadap dunia usaha Amerika," kata Trump seperti dilaporkan dalam wawancara dengan media internal Gedung Putih.
