Netizen pun ramai menanggapi dengan berbagai tafsir, mulai dari sindiran, kritik, hingga dukungan terhadap gestur Presiden. Akun @moh**** menulis, "Dari gesturenya, sepertinya blio bilang gini: Bahlil, kamu langsung ke atas saja temui Allah," yang bernada sarkastik dan penuh penafsiran humor gelap.
Namun di sisi lain, muncul pula komentar bernuansa politis dan penuh tuntutan. Akun @sus**** menyatakan, "Bukan hal yg istimewa cuma menolak salaman, kalau stop tambang di Raja Ampat diberhentikan semua tanpa pengecualian baru pantas untuk dipuji. Suruh Jokowi tunjukkan ijazah aslinya, pecat Tito demi Aceh. Koruptor dihukum mati, tarik semua kekayaannya dan anak turunannya diasingkan."
Komentar-komentar seperti ini menunjukkan bahwa publik tidak hanya menilai sikap Presiden dari simbol dan gestur, melainkan menuntut keberanian untuk menindaklanjuti dengan kebijakan yang tegas. Isu-isu seperti tambang, korupsi, dan kinerja menteri kini dikaitkan langsung dengan satu momen kecil: penolakan salaman.
Salah satu komentar yang juga menarik datang dari akun @ase**** yang menulis, "Presiden kesel tapi gak berani sama Mulyono," seolah merujuk pada ketidakkonsistenan sikap terhadap tokoh-tokoh tertentu dalam lingkaran kekuasaan.
Sementara itu, akun @koh**** menyebut, "Cuma gak salaman doang gak berarti tegas lah! Tegas itu kalau dia berani COPOT dan PECAT semua menteri yg kerjanya ngaco, bikin gaduh, gak berkualitas, orangnya Jokowi! Itu baru TEGAS!!!"
