Proyek baterai EV yang sebelumnya dicanangkan bersama LG menjadi salah satu strategi pemerintah dalam mendukung transisi energi dan pengembangan industri ramah lingkungan.
Apalagi, Indonesia memiliki cadangan nikel yang besar, yang menjadi bahan utama dalam pembuatan baterai kendaraan listrik.
Sebagai catatan, nilai investasi yang dibatalkan mencapai 11 triliun won atau setara Rp130 triliun, berdasarkan asumsi kurs Rp11.826 per won. Nilai ini mencerminkan skala proyek yang sangat besar dan peran penting Indonesia dalam strategi global LG dalam sektor EV.
Pemerintah Indonesia sebelumnya menaruh harapan tinggi terhadap proyek tersebut. Pabrik baterai listrik yang akan dibangun semula dijanjikan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.
Baca Juga: HP Lipat Tiga Huawei Mate XT Segera Masuk ke Indonesia, Ini Spesifikasi dan Harganya
