Meski telah dibantah oleh pemerintah Indonesia, isu ini sudah lebih dulu menyulut kekhawatiran di Australia. Media nasional Australia, Australian Broadcasting Corporation (ABC), bahkan melaporkan bahwa Menteri Pertahanan Australia Richard Marles telah melakukan komunikasi langsung dengan Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin.

“Dia (Menteri Sjafrie) telah mengatakan kepada saya dengan sejelas-jelasnya, laporan tentang prospek pesawat Rusia yang beroperasi dari Indonesia sama sekali tidak benar,” kata Richard Marles kepada media Australia.

Letak geografis Papua yang berdekatan dengan Australia membuat isu ini semakin sensitif. Pangkalan udara di Biak hanya berjarak sekitar 1.200 kilometer dari kota Darwin, Australia. Kota tersebut merupakan tempat pasukan rotasi Korps Marinir Amerika Serikat bermarkas selama enam bulan dalam setahun.

Australia sendiri tengah memperkuat pangkalan udara di wilayah utaranya untuk menerima kunjungan pesawat pengebom Amerika Serikat. Dalam konteks ini, rencana Rusia untuk menempatkan pesawat militer di wilayah yang berdekatan jelas menimbulkan kecemasan tersendiri bagi pemerintah Australia.

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengakui bahwa pemerintahnya telah meminta klarifikasi kepada Indonesia terkait laporan dari Janes. Hal ini menjadi penting karena isu tersebut telah menjadi bahan perdebatan panas dalam kampanye pemilu Australia pada Selasa.