“Tidak ada data resmi, kecuali bukti anekdotal yang dikumpulkan AFP menunjukkan pertambahan jumlah laki-laki asing yang berbondong-bondong mendatangi area itu setelah menonton video di media sosial,” tulis laporan AFP, dikutip Senin (21/4/2025).
Baca Juga: Penemuan Makam Nabi Zulkifli di Tembok China Sengaja Disembunyikan? Picu Teori Konspirasi Baru
Konsumen utama dari praktik wisata seks ini sebagian besar berasal dari Korea Selatan, China, dan Taiwan. Namun, ada juga turis dari kawasan Amerika Utara dan Eropa yang terlihat memanfaatkan jasa tersebut. Para wisatawan asing ini kerap menggunakan aplikasi penerjemah saat berkomunikasi dengan para PSK karena tidak menguasai bahasa Jepang.
“Karena mereka tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa Jepang, mereka menulis ‘Berapa?’ di ponsel mereka,” kata Ria, salah satu PSK, namun tidak bersedia menyebutkan nama lengkapnya.
Ria juga menjelaskan bahwa para pekerja seks di Okubo beroperasi secara independen tanpa adanya keterlibatan muncikari. Setelah melakukan kesepakatan, mereka akan mengajak pelanggan menuju hotel cinta (love hotel) terdekat untuk melakukan transaksi.
