Menurut Arata, situasi ini menjadi pemicu meningkatnya jumlah pelanggan asing di kawasan tersebut. Ia juga mengungkap bahwa para perempuan yang dilindungi Rescue Hub sering mengalami berbagai risiko seperti pelecehan, kehamilan tak diinginkan, penyakit menular, hingga pengambilan gambar tanpa persetujuan.

Baca Juga: Unik: Jepang Tawarkan Jasa Sewa Orang untuk Minta Maaf, Diiringi Tangisan Dibanderol Lebih Mahal

“Mereka juga mungkin tidak dibayar atas jasa mereka atau uang mereka bisa saja dirampas,” kata Arata menjelaskan lebih lanjut.

Saat media berkunjung ke apartemen milik Rescue Hub, sekitar 10 orang perempuan sedang beristirahat sambil mengisi daya ponsel dan menyantap makanan. Organisasi tersebut terus berupaya memberikan perlindungan dan pemulihan kepada para perempuan yang ingin meninggalkan dunia prostitusi.

Sementara itu, kepolisian Tokyo tidak memberikan tanggapan terkait peningkatan aktivitas wisata seks yang melibatkan turis asing. Namun, pihak kepolisian sempat menyatakan bahwa patroli di kawasan tersebut telah ditingkatkan sejak bulan Desember lalu.