Proses Hepatirangga dilakukan dengan cara menghaluskan daun pacar. Sebagian warga menumbuk daun tersebut hingga halus, sementara sebagian lainnya mengunyahnya agar lebih lembut sebelum ditempelkan pada kuku.
Setelah itu, daun pacar yang sudah halus ditempelkan di kuku, kemudian dibungkus menggunakan daun tertentu atau plastik kecil dan diikat agar tidak terlepas.
Kuku yang telah dibungkus kemudian dibiarkan semalaman hingga pagi hari. Ketika plastik dilepas, kuku akan berubah warna menjadi merah alami yang khas.
Bagi masyarakat setempat, tradisi ini bukan hanya mempercantik kuku, tetapi juga menjadi simbol kebahagiaan dalam menyambut Idul Fitri setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh.
Seorang warga Wangi-Wangi, Gita (21), mengatakan Hepatirangga sudah menjadi kebiasaan turun-temurun yang selalu dilakukan menjelang Lebaran.
