“Sejak kecil kami sudah biasa melakukan Hepatirangga. Biasanya dilakukan malam hari, daun pacar dihaluskan lalu ditempel di kuku, dibungkus plastik dan dibiarkan sampai pagi supaya warnanya bagus,” ujarnya, Rabu (18/3/2026).
Baca Juga: Kelangkaan Pertalite di Wakatobi Picu Kepanikan, Harga Tembus Rp 30 Ribu Per Botol
Hal senada juga disampaikan warga lainnya, Ona (24). Ia menuturkan tradisi tersebut biasanya dilakukan bersama keluarga atau teman-teman sehingga menjadi momen kebersamaan di akhir Ramadan.
“Biasanya kami kumpul sama keluarga atau tetangga untuk Hepatirangga. Anak-anak juga ikut, jadi suasananya ramai. Besok paginya kuku sudah merah dan itu menandakan kita sudah siap menyambut Lebaran,” katanya.
Selain sebagai tradisi mempercantik diri, Hepatirangga juga menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Wakatobi yang masih terus dipertahankan hingga sekarang.
