Qatadah berkata, orang itu punya pandangan yang tajam. Ia tak mudah silau oleh godaan gemerlap kehidupan dunia. Sedang Ad-Dhahhak menyimpulkan, pemilik hati yang hidup adalah manusia yang bisa memaksimalkan potensi akalnya untuk memahami dengan benar tujuan hidup tersebut.
Singkatnya, hati yang mendapat sibghah (celupan) Al-Qur'an adalah ketika seorang muslim mendapati jiwa dan pikirannya tenang dengan bacaan Al-Qur'an. Ia menikmati lantunan Al-Qur'an tersebut bahkan dapat bergetar dengan ayat-ayat yang dibacakan kepadanya.
Lebih dari itu, ketika orang tersebut merasa dimudahkan dalam mengamalkan Al-Qur'an, maka sepantasnya ia bersyukur dan meminta keistiqamahan kepada Allah SWT.
Di sisi lain, akhlak yang buruk dan perilaku yang tidak beradab menjadi utama daripada hati yang kering dan jauh dari sentuhan Al-Qur'an.
Waktunya hanya disibukkan mengurus kepentingan dunia. Tak peduli dengan aturan agama, orang-orang tersebut bahkan tak lepas dari pandangan dan maksiat kepada Allah.
