Waktu fajar diibaratkan sebagai masa muda. Masa ketika manusia berada dalam puncak fisik yang kuat dan kokoh. Dadang menyayangkan bila masa muda dihabiskan untuk hidup foya-foya tanpa amal saleh. Padahal, di usia yang prima seharusnya dimanfaatkan untuk beramal saleh, giat menuntut ilmu, agar kelak saat dewasa bisa produktif berkarya.
"Masa muda Anda yang penuh dengan , kakinya, sendinya, dan fisik lainnya masih kuat, tapi dipakai untuk apa? Apakah maksiat atau taat beriman kepada Allah? Semoga mereka dapat memanfaatkan waktu mudanya dengan sebaik-baiknya,” harap Dadang.
Selanjutnya, kata Dadang, Allah SWT bersumpah demi waktu dhuha dalam QS. Ad-Duha, yang isinya perintah dari Allah SWT agar manusia berkarya dan berbagi dengan sesama menjadi manusia yang produktif.
Kemudian Allah bersumpah dalam QS. Al-Ashr, demi waktu asar. Dalam surah itu Allah menegaskan, seluruh manusia merugi bila mereka menyia-nyiakan masa muda. Selain itu, Allah bersumpah pada Surah Al Lail, demi waktu malam.
Apa yang hendak disampaikan Dadang ini memiliki filosofi bahwa ketika manusia di waktu fajar atau masa muda, maka harus giat belajar dan beramal saleh. Di waktu dhuha atau usia produktif, manusia bisa bekerja dan berbagi, di waktu asar atau usia senja menjadi masa di mana ia tidak akan merugi. Terakhir, di waktu malam atau sesudah meninggal, manusia itu akan dapat "tidur" dengan nyenyak atau tenang.
