Mereka seolah pekerja saja, yang terima pendapatan perbulan, seakan soal pengajaran dan mendidik menjadi diskusi pro dan kontra. Langka, terdengar orang tua murid akan berkata kami percayakan kepada bapak/ibu guru untuk memberikan pengajaran dan mendidik anak kami.
Seolah wajar hari ini, seorang anak didik mengadukan gurunya ke petinggi sekolah atau orang tua murid. Seolah anak didik bisa sesuka hatinya menilai proses pengajaran dan mendidik dari seorang guru.
Akhirnya, guru kehilangan kepercayaan diri dan identitas, guru tidak lagi dianggap sebagai sosok yang digugu dan ditiru maupun sosok panutan, saat ini, guru menjadi konotasi yang digerutui dan dirusuhi.
Banyak Anak Kehilangan Kemandirian
Sampai hari ini, penulis masih meyakini guru itu memiliki keluhuran cinta, empati, simpati, dan karakter kepribadian yang bernilai tinggi. Anak-anak penulis realitasnya, bukan saja bisa membaca dan menulis karena guru, tetapi kosa kata yang keluar dari mulut anak karena cadel pun hilang.
