Bukan artinya seorang guru tidak pernah salah. Tetapi agar sikap kita menghargai dan menghormati seorang guru, guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, guru adalah sosok orang tua bagi anak-anak kita di sekolah. Jika bukan kita sebagai orang tuanya yang mempercayai guru, siapa lagi, dan untuk apa kita sebagai orang tua menyekolahkan anak kita jika kita terlalu khawatir terhadap guru.

Lebih baik menghargai proses belajar dan mendidik dari seorang guru. Ketimbang kita bersemangat diakhir ketika bagi raport kenaikan kelas, ramai-ramai orang tua murid memberikan hadiah dan/atau kado terhadap guru, yang pada dasarnya sikap kita terhadap guru adalah menggerutu dan merecoki proses belajar dan mendidik.

Kemandirian seorang anak juga akan hadir, jika kita mempercayai kembali guru sebagai orang tua anak-anak kita di sekolah. Jangan biarkan rasa khawatir kita menyebabkan anak-anak kita tidak mandiri dalam kehidupan. Area sekolah yang telah “diduduki” oleh orang tua murid pada dasarnya membuat anak berperilaku manja.

Bahkan anak didik saat ini, banyak yang kehilangan rasa kebersamaan, identitas sosial, bahkan kesenangan bermain bersama. Lebih parah lagi, banyak ditemukan anak didik yang sulit membedakan antara becanda dan bully, jangan sampai kita sebagai orang tua murid membuat keadaan saat ini tidak seasyik dulu. (*)