Padahal, datangnya birahi atau syahwat bukan dari diri manusia itu sendiri, namun dari luar, baik berupa tontonan, buku, media sosial dan yang lainnya, jika setiap orang dengan bebas bisa mengakses tentu akan menciptakan kegelisahan.
Pemenuhannya inilah yang akhirnya menjadi persoalan, sebab menggunakan hukum manusia, beda kepala beda kepentingan. Ada yang motif sekadar pemuasaan semata, ada yang motif ekonomi. Tak ada pembahasan peran Allah ataupun agama.
Itu pilihan, lantas, jika itu dilakukan oleh negara, yaitu dengan membiarkan takut kepada Allah sebagai pilihan, maka hari inilah yang terjadi. Kerusakan aklak dimana-mana.
Negaralah seharusnya yang menjamin penjagaan kehormatan perempuan dan anak perempuan, bagaimana kelak nasib bangsa dan negara? Generasi yang bagaimana yang akan memimpin bangsa jika perempuan dan anak hidup dalam tekanan dan ketakutan.
Padahal mereka adalah calon ibu generasi, dari rahim mereka akan tercetak generasi cemerlang, tangguh dan bertakwa. Itu jika sistem pendidikannya sesuai, yaitu kurikulum yang berbasis akidah.
