KENDARI, TELISIK.ID - Puasa tidak hanya sekedar kewajiban tidak makan dan minum, tapi juga mencegah dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa, seperti menjaga perkataan dan perbuatan, serta menjaga hawa nafsu. Lebih dari itu, puasa juga harus menjadi momentum untuk meninggalkan perbuatan maksiat.
Dalam menjalankan ibadah puasa selain harus memperhatikan keabsahannya secara fiqih, harus juga diperhatikan hal-hal yang dapat menghilangkan pahala puasa, agar puasa yang dikerjakan berkualitas.
Dilansir dari NU Online, Al-Imam Nawawi mengatakan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarhul Muhaddzab bahwa kesempurnaan dan keutamaan puasa hanya akan diperoleh dengan menjaga dari perkataan yang tidak berfaidah dan perkataan yang buruk, bukan oleh sebabnya puasa menjadi batal.
Imam Al-Bukhari dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad SAW bersabda:
Artinya, "Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak peduli dia telah meninggalkan makanan dan minumannya.”
