Pernah ia mengalami saat kikuk. Suatu ketika ia pernah salat di tempat terbuka, sontak saja menjadi perhatian warga sekitar. Sejak saat itu ia tak lagi salat di tempat umum, lebih memilih di kamar, atau di emperan toko. Selama ini kisahnya di Cina cukup tenang. Suka dukanya dijalani, sama seperti mahasiswa yang kuliah di dalam negeri.

Semuanya berubah, saat virus Corona menjangkiti beberapa orang di Wuhan. Menyebar dengan begitu cepatnya, menjalar laksana api ditumpukan jerami,  seperti yang kita telah mafhumi. Jauh dari orang tua dan teman-teman yang bisa menguatkan. Di perantauan, tidak ada orang yang bisa dijadikan sandaran jiwa.

Pengalaman pahit yang menyempitkan dada. Ia mengalami langsung tepat di Cina. Kita saja sudah demikian paniknya, bagaimana dengannya? Ingatannya tentang ini akan anumerta hingga suatu nanti.  

Sebelumnya Nadah tetiba mendapat telpon dari dosen untuk segera pulang ke kampus. Di tempat liburannya kota Nanjing telah diumumkan beberapa warganya sudah dipastikan positif COVID-19. Liburannya menjadi suram. Sesaat perasaannya menjadi berkecamuk kacau tak menentu.

Senin, 27 Januari 2020 perjalanan dari Nanjing ke Kota Taizhou begitu lengang dan sepi. Mass Rapid Transit (MRT) yang menuju stasiun biasanya penuh sesak dengan desak-desakan manusia, kini dalam MRT ia hanya sendiri. Dari  tempatnya bermalam menuju stasiun ditempuh dalam waktu sejam selama itu pula ia hanya sendiri. Orang-orang tidak lagi sibuk di luar rumah,  tapi sibuk mengurung diri di dalam rumah, karena diserang takut akut akibat virus Corona.