Saat-saat demikian itu ia berpikir selain Tuhan, hanya Ibu yang mampu menjadi tempat membenamkan segala rasa takut akut. Seperti dalam lagu Ibu yang dipopulerkan Iwan Fals, ingin ku dekap dan menangis di pangkuanmu, sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu. Ia ingin segera meninggalkan China, kembali ke negeri +62, ibu pertiwi Indonesia menjumpai Ibunya.
Rabu, 29 Januari 2020 sudah ada beberapa mahasiswa yang dipulangkan ke Indonesia. Ia lalu memberanikan diri bertanya ke Wali Kelas apa ia diperkenankan untuk balik menjumpai Ibu yang melahirkannya. Wali Kelas dan pihak sekolah tak mengizinkan, aturan harus ditegakkan. Kata Lucius Calpurnius Piso Caesoninus, fiat justitia ruat caelum, artinya hendaklah keadilan ditegakkan, walaupun langit akan runtuh. Ia baru dibolehkan balik ke Indonesia setelah menamatkan masa karantika. Esok harinya suhu badannya naik mencapai 37,5 derajat celcius.
"Itu karena saya pakai (tidur di) kasur panas dan setel AC 30 derajat dan ditesnya pas lagi tidur jadi memang suhu badanku tinggi", ungkap kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah itu menjelaskan. Hari itu juga ia langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk melakukan pengecekan.
"Alhamdulillah hasilnya negatif dan sudah diizinkan balik ke Indonesia. Jadi langsung beli tiket tanggal 2 Februari", ungkapnya.
Saat ini gadis yang lahir pada 20 November 1999 sudah di Kendari dan tetap menjalani kuliah daring. Belum ada kepastian dari pihak kampus di Tiongkok kapan perkuliahan akan dibuka seperti sedia kala. Dia sudah siap untuk melanjutkan kuliahnya di sana, tetapi traumanya menganga lebar entah kapan akan akan sembuh utuh.
