Kota Kendari dan Kota Baubau disebut sebagai daerah dengan temuan kasus tertinggi. Penyebab tertingginya adalah hubungan seks sesama jenis antara laki-laki dengan laki-laki. Data tersebut merupakan peringatan serius. Banyaknya temuan dalam delapan bulan pertama menunjukkan bahwa pencegahan dan penanganan HIV harus menjadi agenda prioritas pemerintah daerah.

Persoalannya bukan sekadar berapa banyak orang yang terdiagnosis, melainkan seberapa efektif upaya pencegahan, edukasi, pemeriksaan, pengobatan, dan pendampingan yang telah dilakukan. Sebab, kasus yang terdeteksi hanyalah bagian dari persoalan yang berhasil ditemukan melalui pelayanan kesehatan dan kegiatan skrining.

Di Kota Baubau, misalnya, Dinas Kesehatan melaporkan 28 kasus baru pada Januari–Juni 2026. Pada 2025, ditemukan 77 kasus baru, meskipun sebagian di antaranya berasal dari luar daerah. Dinas Kesehatan juga mengingatkan bahwa kasus yang terdata belum tentu menggambarkan keseluruhan situasi di masyarakat (RRI.co.id, 3-10-2026).

Persoalan HIV di Sulawesi Tenggara tidak berdiri sendiri. Kementerian Kesehatan RI pada Desember 2025 memperkirakan terdapat sekitar 1,96 juta orang yang hidup dengan HIV di Indonesia. Namun, cakupan identifikasi dan pengobatan masih menghadapi tantangan besar. Hingga Oktober 2025, sebanyak 385.472 orang telah mengetahui status HIV-nya, 259.719 orang menjalani terapi antiretroviral (ARV), dan 144.747 orang yang telah diperiksa mencapai supresi virus.

Data tersebut memperlihatkan bahwa persoalan HIV bukan hanya tentang mencegah penularan baru, melainkan juga memastikan orang yang telah terinfeksi memperoleh diagnosis, pengobatan berkelanjutan, dan dukungan yang memadai.