Tujuannya, “kiri-kanan, atas - bawah” tidak memusuhi. Istilah populernya, “cari selamat” atau “main aman” sehingga tidak dipandang ekstrem alias “anti mainstream”. Namun, boleh jadi juga, alami apa adanya saja. Yang pasti, itu bukan prototipe Hoegeng yang diidolakan, seperti kerap diklaim Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Total sosok Hoegeng, memang tak mungkin berulang. Setidaknya, dalam “buku pintar sejarah”, tak ditemukan kosakata “sejarah berulang”, kecuali keserupaan pola kejadian suatu peristiwa. Itu pula sebabnya, terbuka ruang “memreteli” mahalnya sosok Hoegeng ke dalam kategori-kategori seperti pada penentuan penerima “Hoegeng Award”.
Sah-sah saja, misalnya, pada Hari Bhayangkara 2022, dibagi-bagi menjadi beberapa kategori. “Polisi Berdedikasi” dilekatkan pada Kepala Unit Pembinaan Masyarakat Polsek Muara Gembong, Bekasi, Aipda Rohimah; “Polisi Antisuap” pada Irjen Pol. Akhmad Wiyagus (Kapolda Gorontalo yang baru saja mengemban tugas sebagai Kapolda Lampung); dan anugerah “Polisi Inovatif” bagi Wakapolda Papua, Brigjen Pol. Eko Rudi Sudarto. Ketiganya adalah pejabat Polri.
Sesuai kategorisasinya, pantaskah masing-masing mereka itu dianugerahi “Hoegeng Award”? Seperti ingin menukik pada jawaban substansial, Kapolri Sigit menyorongkan fakta, setidaknya ada 67.000 kandidat yang diusulkan masyarakat (Rachel, Kompas.com - 01/07/2022, 20:51). Artinya, untuk sampai pada kesimpulan “berdedikasi”, “antisuap”, dan “inovatif”, pasti bukan dengan serampangan. Ada sejumlah kriteria untuk itu.
Di balik angka “67.000 orang kandidat” itu, agaknya Kapolri ingin mengatakan, “Ketiganya terpilih secara selektif.” Meski, Kapolri Jenderal Sigit dalam sambutannya ketika penganugerahan “Hoegeng Award” tersebut (Jumat, 1/7/22), menggenapi pengakuannya, “Kami terus membuka diri untuk dikritik sehingga kemudian betul-betul bisa jadi Polri yang diharapkan masyarakat.”(Rachel, Kompas.com - 01/07/2022, 20:51 ).
