Ketika kapal laut tak lagi menjadi satu satunya moda transportasi luar kota atau menuju pulau lain, Kendari dikenal sebagai hub—penghubung—menuju pulau pulau yang indah.
Tak sedikit media meliput pulau yang memiliki terumbu karang berwarna warni dan ikan beragam di Pulau Bokori. Media bahkan menjelajah hingga ke Pantai Nambo, lalu ke daerah keraton Baubau, menyusuri jejak Belanda di Raha, atau mengulik ulik kuliner di Kota Kendari.
Di tahun terakhir, nama Pulau Labengki mencuat dan menjadi magnet bagi wisatawan. Para operator pariwisata mempromosikan trip trip ke Kendari melalui media sosial. Mereka tampaknya berjuang sendiri.
Wisatawan yang terduduk lesu di ruang tunggu Bandara Haluoleo, sayangnya tidak terpapar dengan informasi destinasi pariwisata Kendari.
Informasi di google mayoritas berbahasa Indonesia, menunjukkan minimnya ulasan berbahasa Inggris terhadap objek wisata Kendari. Bandara Kendari-sebagai salahsatu pintu gerbang masuknya pengunjung---bahkan tak mampu menjadi medium informasi informasi objek wisata yang bisa ditempuh dari Kendari. Dinding bandara kosong melompong, tak ada peta dan tak ada informasi atraktif.
